Kamis, 30 Oktober 2014, Ini adalah pengalaman pertama penulis
dalam mendaki gunung dan bisa dibilang ini acara dadakan karna dengar kabar
dari Bang Jac pukul 12:00 Wib dan langsung berangkat pukul 16:00 Wib, padahal
jam 13:00 Wib penulis masih punya jadwal UTS Agama Islam sampai dengan pukul
14:30 Wib. Tapi itu tidak jadi alasan untuk penulis membatalkan rencana perjalanan
ini. Ternyata UTS agama salah jadwal dan ditunda minggu depan, akhirnya penulis
langsung bergegas pergi dari kampus untuk siap-siap membawa perlengkapan yang
akan dibawa untuk pendakian. Inilah hasilnya.
2 jaket casual dan parasut
Sepasang celana pendek dan kaos
Satu celana panjang (kain)
Raincoat
Kaos kaki 2 pasang
Sepatu snakers
Bandana
Handuk kecil
Tas daypack 40 L
1 Kaos lengan panjang
Logistik
Setelah semua perlengkapan terkumpul, penulis langsung pergi
ke tempat Bang Jac untuk berkumpul bersama Bang Oim dan Daeng yang terlebih
dahulu sampai. Sebelum berangkat kami melakukan packing lagi agar tidak ada
barang yang tertinggal. Lalu setelah semua selesai dan tas carrier pun sudah
rapi, kami pamit kepada teman-teman dari Bang Jac yang ada di kosan agar perjalanan
ini diberi kelancaran dan tidak ada halangan sampai kembali ke kosan. Tak lupa
kami foto bareng dengan anak-anak kosan.
Perjalanan kami mulai pada pukul 20:00 Wib dengan mengendarai
dua sepeda motor menuju simpang Ps. Rebo, sesampainya disana kami menitipkan
motor di tempat penitipan motor 24 jam tidak jauh dari simpang Ps. Rebo dengan
biaya Rp.5000/hari. Setelah berhasil menitipkan motor, kami berjalan untuk
mencari bus dengan jurusan
Jakarta-kuningan. Tiba-tiba calo bis (Istana Indonesia) turun dan menawarkan
harga perjalanan kepada kami, akhirnya kami setuju dengan harga Rp.50,000/orang
harga yang cukup murah untuk mengantarkan kami sampai ke Kuningan.
Selama perjalanan kami dibuat cemas dengan tingkah bapak
supir yang sangat ugal-ugalan dalam mengendarai mobil, meskipun begitu kami
tetap menikmati dan bergembira di dalam bus, ada salah satu dari kami yang usil
karna mengambil gambar teman pada saat tertidur pulas. Tapi kami sempat kecewa
dengan bus yang kami tumpangi, karena terlalu banyak berhenti (ngetem) untuk
mencari penumpang lain. Akhirnya yang biasanya perjalanan memakan waktu hanya 5
jam, ini sampai 6 jam baru kami sampai ke pertigaan Linggarjati,Kuningan. Kami
tiba tepat pada pukul 02:30 Wib dengan disambut hawa dingin dari Gunung Ciremai,
tiba-tiba ada bapak-bapak yang sudah lansia menghampiri kami dan menawarkan
jasa ojek dengan harga Rp. 15,000/orang, setelah kami fikir harga itu terlalu
tinggi dan kamipun memutuskan untuk menunggu angkot meskipun menurut informasi
warga angkot baru keluar pada pukul 04:00 pagi. Pada saat sedang menunggu,
belum lama setelah istirahat di depan Indomart tiba-tiba sebuah mobil angkot
berwarna biru muda lewat di depan kami, Bang Oim langsung menghampiri dan
terjadilah tawar-menawar yang cukup damai dengan Bahasa Sunda(halus), akhirnya
kami naik dengan biaya Rp.25,000 (4 Orang) harga yang sangat murah daripada
harus naik ojek.
Ternyata sesampainya kami di basecamp Linggarjati, sudah ada
dua rombongan yang terlebih dahulu tiba, kami termasuk rombongan ketiga yang
sampai di basecamp linggarjati. Kami di
sambut hangat oleh teman-teman pendaki yang lain, basecamp ini seperti sebuah
rumah biasa yang mempunyai 3 ruangan untuk beristirahat dan di belakang ada
kamar mandi. Di basecamp perut kami terasa sangat lapar dan butuh sesuatu untuk
dimakan, penulis ingat sebelum sampai di basecamp penulis sempat melihat ada
ibu-ibu yang berjualan serabi. Akhirnya penulis dan Bang Oim turun lagi kebawah
untuk membeli serabi dan Bang Jac dan Daeng menunggu di basecamp. Serabi disini
cukup murah, dengan harga Rp.1000 saja kita bisa menikmatinya, yang spesial
disini adalah kami makan serabi bersamaan dengan tempe goreng kering. Bukan
dengan berbagai macam sauce atau vla berbagai rasa seperti yang ada di jakarta.
Setelah selesai makan serabi dan membayar tiket masuk
pendakian, tepat pada pukul 05:00 kami memulai perjalanan dari basecamp Linggarjati
(660 mdpl) menuju pos satu (Cibunar 800 mdpl). Tidak lupa kami berdoa agar
diberikan keselamatan oleh allah SWT. Track yang kami lewati yaitu aspal yang
cukup halus, pertama aspal cukup landai tetapi setelah jalan sekitar 500m jalan
mulai menanjak dengan pemandangan sawah dan terasering yang indah. Membuat kami
semakin bersemangat untuk melakukan pendakian. Tak lupa kami mengabadikan
moment-moment indah pada saat perjalanan, sebelum sampai di pos satu kami harus
melalui jalan aspal dengan tanjakan yang cukup membuat jantung berdetak cukup
cepat. Seringkali kami berhenti istirahat di tengah perjalanan untuk sekedar
mengatur nafas yang sulit dikendalikan.
Akhirnya sampailah kami di Pos Satu (Cibunar 800 mdpl) Pos
ini adalah satu-satunya pos dimana terdapat sumber mata air yang siap untuk
diminum bagi para pendaki yang ingin pergi ke puncak. Hampir semua pendaki
menyempatkan waktunya untuk mengisi persediaan air di pos ini. Air disini
gratis jadi pendaki bebas untuk mengambilnya.
Setelah selesai mengambil air dan packing tas cerrier, kami
melanjutkan perjalanan pada pukul 07:00 menuju pos kedua (Kondangamis 1.180
mdpl). Dari pos satu untuk menuju ke puncak di butuhkan jarak sekitar 9,5 km
perjalanan, dengan waktu tempuh normal sekitar 10 jam tanpa berhenti. Track
menuju pos kedua masih tergolong landai dengan banyak pepohonan
seperti,pisang,papaya, pinus dll yang cukup lebat, kami sangat menikmati
perjalanan dengan di temani udara pagi di kaki gunung yang asri yang tidak terkontaminasi
dengan asap polusi. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat dan sepanjang
perjalanan kami juga sering bertemu dengan para pendaki lain yang sedang
istirahat ataupun sedang melakukan perjalanan. Setelah satu jam perjalanan,
track menuju pos kedua mulai di dominasi dengan semak-semak yang cukup basah
akibat embun yang turun di pagi hari. Sesaat sebelum sampai di pos kedua track
mulai banyak rintangan dengan tanjakan tanah mendominasi , akhirnya pada pukul
09:15 Wib kami sampai di pos kedua.
Setibanya disana kami memutuskan untuk membuat sarapan pagi
dengan menu mie rebus dengan nasi liwet, cukup biasa tapi sangat nikmat jika di
nikmati di gunung dengan suasana kebersamaan. Tanpa menunggu waktu lama-lama
kami membagi tugas agar makanan cepat tersaji, penulis menyiapkan air,kopi,teh
Bang Daeng menyiapkan gas,kompor dan peralatan masak Bang Oim menyiapkan Beras
yang akan di masak dan Bang Jac menyiapkan Mie Rebus. Kami berempat sangat
menikmati moment tersebut. Tak lupa kami untuk mengucap syukur atas nikmat yang
diberikan Allah SWT.
Setelah kebutuhan perut terpenuhi dan energi kembali bugar,
kami melanjutkan perjalanan ke pos ketiga yaitu (Kuburankuda 1.420 mdpl). Awal
perjalanan kami disambut dengan jalan tanah yang datar cenderung kami dimanja oleh
track ini. Setelah 15 menit berjalan track mulai tidak bersahabat, tanjakan
yang di dominasi akar yang sangat licin dan jalan yang terus menanjak membuat
fisik kami mudah lelah dan beberapa kali
harus berhenti untuk beristirahat, sesaat sebelum sampai di pos ketiga
penulis sempat terpeleset akibat pijakan akar yang cukup licin, tetapi untungnya
penulis dapat melanjutkan perjalanan kembali. Pada saat perjalanan kami
cenderung jalan santai karna dengan jalan santai pengaturan nafas bisa
terkontrol dan tidak gampang capek. Setelah melakukan perjalanan sekitar 1 jam
tibalah kami di pos ketiga. Dengan disuguhi dua batang pohon besar untuk tempat
istirahat para pendaki. Dipos ini kami tidak terlalu lama beristirahat, hanya
sekitar 5 menit, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pos selanjutnya.
Setelah istirahat dirasa sudah cukup, kami tidak ingin
menghabiskan waktu lama-lama karena perjalanan masih panjang dan masih banyak
jalur yang lebih menantang yang harus di lewati. Setelah sampai di pos ketiga,
tujuan selanjutnya adalah pos empat (Pangalap 1.635 mdpl). Kata Bang Oim yang
sudah ke empat kalinya naik ke Gunung Ciremai, track ini lumayan untuk para
pendaki, maka dari itu sebelum melanjutkan perjalanan bang Oim meracik minuman
berenergi penambah stamina untuk kami. Perjalanan kami mulai dengan langkah
pasti dengan memotivasi diri agar bisa sampai puncak, tak lupa sendau-gurau
kami lakukan agar tidak jenuh dan terlalu serius. Ternyata benar yang dikatakan
bang Oim, track menuju ke pangalap ini bener-bener menantang istilahnya
“dengkul ketemu dagu” kalo kata para pendaki. Walaupun jarak perjalanan tidak
terlalu jauh tapi itu terasa sangat melelahkan karena track yang menanjak
terus, akhirnya kami sempat terhenti beberapa kali dan tidak lupa minum minuman
berenergi untuk menambah stamina. Kami berhenti sejenak untuk mendengarkan kumandang azan karena
waktu menunjukan pukul 12:00 Wib , Bang Jac dan Oim tertidur diatas gelaran
matras, wajar saja karena pada saat di bis mereka tidak banyak tidur sedangkan
Penulis dan Bang Daeng tertidur pulas sepanjang perjalanan.
Lalu perjalanan kami lanjutkan pada pukul 13:00 Wib menuju
pos ke empat. Selama perjalanan kami sangat terkesima dengan suara-suara burung
yang berkicau seakan mengiringi perjalanan kami dan memberikan semangat lebih. Akhirnya
setelah melakukan perjalanan sekitar 1 jam, kami tiba di pos ke empat. Rasa
hati pun sangat lega akhirnya kami bisa beristirahat setelah melakukan
perjalanan yang melelahkan dan terkadang membuat otot betis dan paha menjadi
keram, wajar saja karena ini pendakian perdana penulis. Di pos ini terdapat
satu batang pohon yang berguna untuk tempat duduk dan di pos ini lumayan luas
jika ingin bermalam (Ngecamp). Kami pun bergegas mengeluarkan logistik minuman
untuk menambah stamina, akhirnya tercipta racikan ala Bang Oim yaitu
Susu+madu+jas-jus Strawberi yang sangat nikmat.
Pos yang selanjutnya adalah pos kelima yaitu Tanjakan Sareuni
(1.800 mdpl). Melihat waktu yang sudah cukup sore dan fisik yang sudah lemah,
pos ini adalah target kami akan bermalam. Setelah istirahat cukup dari pos
pangalab kami melanjutkan perjalanan pukul 14:30 Wib menuju pos kelima. Di
sepanjang perjalanan tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya track menanjak
mendominasi selama perjalanan. Penulis dan Bang Daeng sangat merasakan beratnya
track via Linggarjati ini, terlebih lagi kami berdua baru pertama kalinya
mendaki, jadi wajar saja jika dalam perjalanan kami banyak berhenti. Pengaturan nafas yang tidak teratur dan keram
otot adalah salah satu kendala bagi kami, tapi bisa buat pelajaran agar lebih
siap jika ingin mendaki lagi.
Akhirnya sekitar pukul 16:00 Wib kami tiba di pos kelima,
karena perut kembali lapar akhirnya kami memutuskan untuk membuat makanan lagi
di pos ini dan kami mendirikan tenda karena langit mendung dan terlihat hujan
akan segera turun. Lalu kami kembali membagi tugas, Bang Jac dan Oim sibuk
dengan makanan sedangkan Penulis dan Bang Daeng sibuk mendirikan tenda. Setelah
tenda berdiri kami berdua memasukan dan merapikan peralatan kedalam tenda,
setelah semua beres kami berempat menyantap makan siang sekaligus makan malam
di Pos Tanjakan Sareuni.
Selesai bersantap kami bersantai santai dengan menikmati
embun yang turun di sore hari. Karena cuaca mulai dingin Penulis dan Bang Oim
mencari kayu untuk membuat api unggun di depan tenda kami, dengan tujuan
menghangatkan tubuh, kayu berhasil kami bakar tetapi malang nasib kami karena
hujan turun pada pukul 17:30 Wib sampai 23:00 Wib. Akhirnya kami semua masuk
kedalam tenda dan istirahat. Lalu melanjutkan perjalanan keesokan harinya
Jumat, 31 Oktober 2014 pada pukul 01:00 Wib dengan tujuan melihat sunrise dari
atas puncak Ciremai.
Waktu menunjukan pukul 18:00 Wib hujan turun mulai deras, ini
adalah waktu yang tepat untuk kami istirahat malam, dengan berbekal sleeping
bag untuk penghangat tidur, tak lupa juga penulis menghidupkan alarm pada pukul
23:30 Wib agar tidak telat bangun dan siap-siap untuk membuat masakan dan
packing tas carrier. Akhirnya alarm pun berdering tanda waktu kami harus bangun
untuk melanjutkan perjalanan, sebelumnya kami membuat makanan dan minuman
penghangat tubuh karena suhu diluar cukup dingin, setelah semua terpenuhi dan
tenda sudah berhasih di lipat, sebelum berangkat kami tidak lupa memanjatkan
doa agar senantiasa diberikan perlindungan dan kemudahan dalam perjalanan
menuju puncak.
Pos selanjutnya yaitu pos keenam (Bapatere 2.110 mdpl). Kami
berangkat tepat pada pukul 01:00 Wib, dengan formasi Bang Oim petunjuk jalan,
Bang Jac kedua, Penulis dan Bang Daeng yang dibelakang. Kami hanya membawa satu
tas daypack 40 L yang dalamnya berisi air,logistik dan raincoat. Track yang
licin dan juga penerangan yang kurang membuat kami harus berhati-hati dalam
melangkah, salah sedikit akibatnya fatal. Kerjasama team sangat dibutuhkan
untuk pendakian pada malam hari, kordinasi satu sama lain harus kompak agar
tidak terjadi sesuatu yang buruk yang tidak di inginkan terjadi. Perjalanan
menuju Pos Bapatere sangat melelahkan, di pos ini kami menemukan jalan tanah
yang sempit dan licin, tak jarang kami terpeleset disini dan tidak hanya itu
saja terdapat pula tanjakan yang sangat terjal dengan bantuan tali penghubung
kami bisa melalui track ini dan di butuhkan konsentrasi ekstra agar tidak
terjatuh. Perjalanan kami terhenti setelah melihat pos ke enam sudah di depan
mata waktu menunjukan pukul 01:45 Wib. Kami istirahat sejenak dan minum minuman
penghangat tubuh.
Lalu perjalanan kami lanjutkan dengan langkah pasti dan motivasi
prima untuk melihat sunrise di puncak, memberikan suntikan semangat agar terus melangkah
tanpa kenal lelah. Pos selanjutnya adalah pos ketujuh yaitu (Batulingga 2.330
mdpl). Ini adalah pos dimana banyak para pendaki yang bermalam karena di sini dinilai
sudah cukup dekat dengan puncak. Jalan
yang kami lalui cukup menantang para pendaki tidak di beri ruang untuk
bersantai-santai artinya jalan ini terus menanjak atau istilahnya “dengkul
ketemu Dahi” hanya sesekali saja ada tanah landai untuk tempat istirahat para
pendaki, akhirnya sekitar pukul 03:00 Wib kami sampai di pos Batulingga. Sejenak
untuk meluruskan kaki dan meracik kembali minuman berenergi untuk bekal menuju
puncak. di pos ini kami bertemu dengan para pendaki lain yang sedang istirahat
malam, ada sekitar 4 tenda yang bermalam di pos ini. Cuaca yang sangat dingin
dan mulai membuat kulit tangan mati rasa memaksa kami untuk tidak terlalu lama
dalam beristirahat, karena tubuh akan cepat dingin.
Akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju pos kedelapan yaitu
(Sanggabuana 2.470 mdpl). Pada pos Sanggabuana terdapat dua nama yaitu
Sanggabuana I dan Sanggabuana II. Karena track menuju Sanggabuana lumayan
panjang, mungkin itu kenapa di bagi menjadi dua nama, agar para pendaki bisa
beristirahat. Seperti pos-pos yang lain, perjalanan menuju Sanggabuana I cukup
menanjak dan hanya sebentar dari Batulingga, memakan waktu sekitar 45 menit.
Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju Sanggabuana II, disini kami sudah
menemukan track bebatuan dan akar yang cukup licin, salah pijak akan berakibat
buruk pada keselamatan. Pepohonan menuju Sanggabuana II sudah tidak setinggi
dan selebat pos-pos sebelumnya, artinya puncak sudah mulai dekat. Setelah
sekian lama melakukan perjalanan kami sampai di pos Sanggabuana II tepat pada
pukul 05:00 Wib. Dari sini masih dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi untuk
mencapai puncak dengan catatan tanpa berhenti.
Lalu pos selanjutnya adalah pos ke sembilan yaitu (Pengasinan
2.810 mdpl). Pos ini sering kali dianggap sudah puncak karena jaraknya yang
sangat dekat dengan puncak, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai
puncak dari pos pengasinan ini. kalau dari pos Sanggabuana II menuju Pengasinan
sudah dapat dilihat pemandangan Sunrise yang lumayan jelas dan cukup membuat
kami terkagum-kagum akan kuasa Allah SWT. Walaupun kami gagal untuk bisa
melihat Sunrise di puncak tapi kami tetap semangat untuk meneruskan perjalanan
menuju puncak. perjalanan menuju Pos
pengasinan di dominasi oleh track batu-batuan yang sangat berat untuk didaki.
Kamipun kembali harus terhenti beberapa kali di perjalanan disebabkan track yang
cukup sulit dan melelahkan. Buah dari semangat kami yang pantang menyerah,
akhirnya kami tiba di pos Pengasinan pada pukul 06:00 Wib. Sejenak melepas
lelah dan lagi-lagi Bang Oim membuat racikan lagi untuk penambah stamina,
disini juga kami mengeluarkan logistik berupa roti potong yang di tambah dengan
susu dan madu.
Akhirnya pada pukul 06:30 Wib kami melanjutkan perjalanan
menuju puncak Ciremai, track menuju Puncak ini di dominasi oleh batu-batuan dan
tanah berpasir dengan ketinggian yang cukup terjal. Di pos ini sudah banyak
terdapat tanaman Bunga Edelweis (bunga abadi) yang hanya bisa tumbuh di dataran
tinggi. Kami disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah dan jika menoleh
kebelakang pemandangan kota Cirebon dan Kuningan sangat jelas terlihat. Itu
membuat kami terus semangat untuk mendaki sampai puncak walaupun tenaga sudah
mulai habis akibat perjalanan pada saat dini hari.
Lalu sekitar pukul 70:30 Wib kami akhirnya sampai di puncak
kawah yang bernama Panglongokan 3.005 mdpl, Penulis kira ini sudah puncak dari
Gunung Ciremai, tetapi kata Bang Jac dan Oim, ini belum puncak pas, kami harus
memutari setengah dari kawah sampai ketemu dengan bendera merah putih dan
terdapat papan kayu bertuliskan Puncak Ciremai 3.078 mdpl berwarna kuning.
Akhirnya kamipun berhasil memutari setengah dari kawah dan sukses melangkahkan
kaki sampai puncak Gunung Ciremai dengan ketinggian 3.078 mdpl “Atap Bumi
Priangan” tepat pada pukul 08:00 Wib pada hari Sabtu, 1 November 2014.
Penulis sejenak terdiam, terkesima dan tak lupa mengucap
syukur dengan memandangi keindahan alam dari atas gunung, kami merasa seperti
berdiri di atas awan. Banyak pelajaran yang dapat di ambil dari pengalaman
penulis setelah mendaki ke puncak Ciremai, salah satunya adalah kita (manusia)
tidak ada gunanya untuk bersifat sombong, karna manusia hanyalah sebagian kecil
dari ciptaan allah SWT yang ada di bumi.
Kami semua tak lupa untuk mengambil moment terbaik di atas
puncak hanya sekedar untuk kenangan bahwa kami pernah melangkahkan kaki ke
Puncak Ciremai. Setelah itu pada pukul 10:30 Wib kami bergegas untuk turun
kembali ke tenda agar tidak terlalu malam sampai di bawah. Di pertengahan jalan
kami menghabiskan sisa roti potong dan susu yang masih ada untuk tambahan
tenaga.
Akhirnya setelah kami turun dan sampai ke tenda yang kami
tinggalkan di Pos Tanjakan Sareuni pada pukul 14:00 Wib. Sasampainya ditenda
perut kami tersasa sangat lapar dan sudah tidak sabar untuk memasak semua
logistik yang tersisa sebelum turun ke Pos Cibunar. Seperti biasanya kami
membagi tugas agar semuanya dapat tersaji dengan cepat. Penulis dan Bang Daeng
mengurus tenda dan peralatan lainya serta Bang Jac dan Oim membuat masakan
untuk santap sore. Sore ini kami makan dengan menu Nasi+Sarden+Otak-Otak+orek
tempe udang. Sangat cocok untuk perut yang sangat lapar, akhirnya kami dengan
cepat menyantap makan sore kami dengan lahap dan setelah itu siap-siap packing
untuk kembali ke basecamp Linggarjati dan melanjutkan perjalanan kembali ke
jakarta.
Kami turun dari Pos Tanjakan Sareuni pada pukul 16:00 Wib,
dan sampai di Pos Kondangamis pada pukul 17:30, senja sore mulai turun dan
membuat kami harus mengeluarkan headlamp untuk penerangan, akhirnya kami sampai
di Pos Cibunar tepat pada pukul 18:30 Wib, sejenak melepas lelah dengan makan
gorengan tape di warung dekat Pos Cibunar. Lalu melanjutkan perjalanan sampai
dengan warung Mang Maman yang berada tidak jauh dari basecamp Linggarjati. Kami
disini makan nasi campur dengan harga Rp.8,000 saja sambil istirahat sampai
pukul 10:30 Wib, Disini juga menyediakan tempat tidur,mushola,charger,kamar
mandi dan menjual assesoris bagi para pendaki. Lalu melanjutkan perjalanan ke pertigaan
Linggarjati dengan berjalan kaki karena angkot maksimal sampai jam 18:00 Wib,
untuk menunggu bis yang dapat membawa kami kembali ke jakarta.
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan kurang lebih
sekitar 4 Km dari basecamp ke pertigaan. Sampailah kami di pertigaan
Linggarjati pada pukul 12:00 Wib. Dan menunggu bis tak kunjung datang sampai
pukul 01:30 Wib, 2 November 2014. Baru bis lewat dengan kesepakatan harga
sebesar Rp. 50,000/ orang. Kami langsung
tertidur lelap sesaat setelah naik keatas bis. Kami tiba di jakarta pukul 07:30
Wib dan kembali sampai di kosan pada pukul 10:00 Wib. Untuk budget perjalanan
Penulis menghabiskan dana sekitar Rp.350,000/org PP(pulang-pergi) Alhamdulilah
kami kembali dengan selamat sampai di kosan.
Sekian Laporan Perjalanan Pendakian Gunung Ciremai Via
Linggarjati,Kuningan, Jawa Barat. Kurang lebihnya dalam penulisan kata-kata,
penulis minta maaf yang sebesar besarnya, semoga tulisan ini dapat berguna bagi
pembaca.
Berikut adalah hasil foto kami pada saat perjalanan pendakian




Jalur aspal kiri Penulis, Bang Oim, bang Jac


Pemandangan kota Kuningan
Istirahat di pos Kedua
Kondangamis Menu sarapan di Pos Kondangamis


View sunrise di
perjalanan menuju Pos Pengasinan




View
di atas kawan Gunung Ciremai
Melihat terbitnya sunrise


Puncak Ciremai Puncak Ciremai 3078 mdpl

The sands casino | Play Online Casino Games
ReplyDeleteThe sands casino offers a wide selection of slots 샌즈카지노 and video poker machines, 제왕카지노 and they're also among the most well-known casino and sportsbooks in 바카라 Nevada.